WaiFi Powered by Waroeng Alam

Yang sedang lagi bingung gak ada kuota, mau beli kuota tapi harganya muahal... Atau mau downloading, uploading, chatting, sharing, sampai njengking tapi masih takut kuota habis... Nah mending ke WaiFi aja gaes... Yuhu Ane Tunggu ya.

Kumpulan Tulisan di Blog Waroeng Alam

Banyak pilihan tulisan yang sengaja ane posting di sini. Terdiri dari artikel , makalah, humor, puisi, cerpen, novel yang pastinya berasal dari sumber yang jelas, tepat dan akurat tapi ada juga yang sengaja tidak saya beri tahu sumbernya, soalnya sudah lupa. Silahkan membaca untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Mari budayakan membaca

Silahkan klik gambar ini untuk pengalaman membaca lebih asik. Beberapa pilihan artikel islami terpercaya, no hoax dan pastinya berasal dari sumber yang jelas, tepat dan akurat. Silahkan membaca untuk meningkatkan pengetahuan kita.

Undangan Murah, masih bisa nego lagi....

Undangan murah dengan kualitas premium sampai high class ada disini dan tentunya bukan yang murahan ya gengs. Silahkan klik gambar di atas dan pilih beberapa katalog yang sesaui dengan minat dan ukuran kantong anda. Harganya murah dan masih bisa nego lagi. Yuk intip koleksinya.

Selamat Datang di My Blog << Waroeng Alam is a Waroeng-e Alam >>
Showing posts with label Makalah SMA/SMK/MA. Show all posts
Showing posts with label Makalah SMA/SMK/MA. Show all posts

Monday, July 30, 2018

Barisan dan Deret Aritmatika

Barisan Aritmatika dan Deret Aritmatika

Pengertian Barisan Matematika
Yang dinamakan barisan dari bilangan real adalah susunan bilangan yang mempunyai sifat keturunan (berpola), unsur-unsur suatu barisan disebut dengan istilah suku-suku barisan, dilambangkan dengan  U1, U2, U3, …, Un.
U1 = suku pertama
U2 = suku kedua
U3 = suku ketiga
Un = suku ke-n
Contoh barisan bilangan ganjil
1, 3, 5, 7, 9, …., 2n-1
suku pertaman (U1) = 1, suku kedua (U2) = 3, dan suku ke-n = 2n-1
Dalam matematika SMA, jenis barisan ada 2 yaitu barisan aritmatika dan barisan geometri, kali ini kita akan belajar barisan aritmatika dulu, yang geometri insyaAlloh menyusul.
Barisan Aritmatika
Definisi barisan ini adalah barisan yang setiap selisih antar suku yang berdekatan selalu konstan. Secara matematis dalam barisan aritmatika berlaku rumus
Un-Un-1 = konstan, dengan n = 2,3,4,...
 Nilai konstan pada definisi di atas disebut juga dengan beda barisan aritmatika (dilambangkan b)
Un-Un-1 = b
Contoh
23, 30, 37, 44, 51, … merupakan barisan aritmatika dengan beda 7
2, 7/4, 3/2, 5/4, 1, … adalah barisan aritmatika dengan beda -1/4
Jika a adalah suku pertama dari deret matika dan b adalah beda, maka rumus barisan aritmatika adalah
Un = a  + (n-1)b [rumus barisan aritmatika]
Contoh soal
Suatu barisan aritmetika, suku ketiganya adalah 36, jumlah suku ke-5 dan ke-7 adalah 144. Berapa suku ke seratus dari barisan tersebut.
Jawab :
U3 = 36 
a + (3-1)  b = 36 a + 2b = 36 ……. (1)
U5 + U7
a + 4b + a + 6 b = 144 2a + 10 b = 144  a + 5b =72 …… (2)
eliminasi persamaan (1) dengan persamaan (2)
a + 2b = 36
a + 5b = 72
————– –
-3b = – 36 
b = 12
a + 2b = 36
a + 2(12) = 36
a + 24 = 36 a = 12
suku ke 100, U100 = a +  (100-1) b = 12 + 99.12 = 100. 12 =1200
Suku Tengah Barisan Aritmatika
Jika suatu barisan aritmatika berjumlah ganjil, maka di antara barisan tersebut ada suku tengahnya. Lalu bagaimana cara menentukan nilai dari suku tengah tersebut?
Rumus mencari nilai suku tengah
Ut = 1/2 (U1+Un)
contoh soal
Jika ada barisan aritmetika 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, …, 1.200 Tentukan suku tengahnya!
Ut = 1/2 (U1+Un) = 1/2 (2+1200) = 1/2 x 1.202 = 601
Sisipan dalam Barisan Aritmatika
Jika ada dua buah bilagnan m dan n, kemudian sobat sisipkan diantara dua bilangan tersebut bilangan sebanyak k buah, maka akan diperoleh bentuk
m, m+b, m+2b, m+3b, m+4b, …, n
misal kita punya 2 bilangan 10 dan 20 kemudian akan kita sisipkan 4 buah bilangan di antaranya hingga membentuk deret aritmatika. Dari semula 2 suku sekarang ditambah 4 suku, total ada 6 suku.
10, 10+b, 10+2b, 10+3b, 10+4b, 20 pertanyaanya berapa nilai beda (b)?
Sobat bisa menggunakan rumus Un = a+(n-1)b  20 = 10+(6-1)b 20 = 10 + 5b b = 2
untuk rumus cepat sobat bisa menggunakan
b = [n-m]/[k+1]

Deret Aritmatika

Misalkan sobat punya suatu barisam aritmatikan U1, U2, U3, …. Un
maka jika sobat hitung melakukan penjumlahan suku secara berurutan dari suku pertama hingga suku ke-n, U1 + U2 + U3 + …. + Un itulah yang sdisebut dengan derat aritmatika. Sebut saja deret adalah jumlah dari suatu barisan aritmatika. Sn = jumlah n buah suku pertama dari suatu barisan aritmatika adalah
Sn = 1/2 n (2a+(n-1)b)
karena a+(n-1)b = Un
Sn = 1/2 n (a+a+(n-1)b)  = 1/2 n (a+Un)
Contoh soal
Misal saya punya sejumlah kelereng. Kelereng tersebut akan saya bagikan habis ke 5 orang dari sobat hitung menurut suatu aturan barisan aritmatika. Jika orang ketiga dapat 15 kelerang dan orang ke-4 dapat 19 kelerang. Berapa jumlah kelereng yang saya punya?
Pembahasan
Jumlah kelereng = deret artimatika dengan n = 5 (S5). Pertama kita cari nilai a dan b.
U3 = 15 a+2b = 15 …. (i)
U4 = 15 a+3b = 19 …. (ii)
……………………………………………. – (eliminasi)
– b = -4   b = 4
a+2b = 15
a+8 = 15
a = 7
S5 = 1/2 5 (2(7)+(5-1)4) = 5/2 (30) = 75 buah kelereng.

Sumber : Google

Thursday, March 29, 2018

Kerajaan Islam Samudera Pasai


KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA
(SAMUDERA PASAI)

Kerajaan Samudera Pasai dalam sejarah Indonesia tercatat sebagai kerajaan Islam yang pertama di Indonesia. Raja pertama dan pendiri kerajaan Samudera Pasai ini adalah Sultan Malik Al-Saleh (1290-1297). Kerajaan Samudera Pasai terletak di sebelah utara Perlak di daerah Lhok Seumawe sekarang (pantai timur Aceh), berbatasan langsung dengan Selat Malaka. 
Pada tahun 1297 M, Sultan Malik Al-Saleh wafat, kemudian kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh putranya yang bernama Sultan Malik al-Tahir (1297-1326). Setelah Sultan Malik al-Tahir wafat pada tahun 1326, kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh putranya, bernama Sultan Malik al-Zahir. 

Mengenai pribadi sultan ini, Ibnu Batutah (pengembara dari Maroko) yang pernah singgah di Samudera Pasai pada tahun 1345 dan 1346 mengatakan bahwa Sultan Malik al-Zahir adalah seorang sultan yang taat pada agama dan menganut ma hab Syafi i. Pada masa pemerintahan Malik al-Zahir terdapat orang Persia yang menjadi pejabat istana.
Pada tahun 1348, Sultan Malik al-Zahir wafat, kemudian takhta kerajaan dipegang oleh Zainal Abidin. Pada masa Zainal Abidin inilah, Majapahit berhasil menguasai Samudera Pasai. Dengan demikian, Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan Majapahit. 
Setelah Majapahit mengalami kehancuran, Samudera Pasai tegak kembali. Keberadaan Samudera Pasai sampai tahun 1405 masih terdengar diberitakan oleh Mohammad Cheng Ho pemimpin armada Cina, yang beragama Islam, dan sempat singgah di Samudera Pasai.
Setelah Zainal Abidin, kerajaan ini tidak terdengar lagi karena telah tergeser oleh Kerajaan Malaka. Perekonomian masyarakat Samudera Pasai tergantung dari perdagangan. Posisinya yang berada di jalur perdagangan internasional dimanfaatkan oleh kerajaan ini untuk kemajuan ekonomi rakyatnya. 
Menurut beberapa sumber sejarah, diketahui bahwa banyak pedagang dari berbagai negara berlabuh di Pelabuhan Pasai. Kerajaan ini berusaha menyiapkan bandar-bandar yang dapat digunakan untuk menambah bahan perbekalan, mengurus perkapalan, mengumpulkan dan menyimpan barang dagangan, baik yang akan dikirim ke luar negeri maupun yang disebarkan di dalam negeri.
Keadaan masyarakat Samudera Pasai pada saat itu, diketahui dari catatan perjalanan Marcopolo dan Ibn Batutah. Menurut catatan perjalanan mereka, masyarakat Pasai adalah masyarakat pedagang yang beragama Islam terutama mereka yang tinggal di pesisir pantai timur Sumatra. Menurut catatan mereka ini juga diketahui bahwa kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat penyebaran agama Islam ke kawasan sekitarnya di Sumatra dan Malaka. Orang-orang Pasai yang telah memeluk Islam menjadi golongan yang berperan dalam menyebarkan Islam, selain golongan pedagang dan ulama setempat.
Kehidupan sosial masyarakat Samudera Pasai, diatur menurut aturan-aturan dan hukum-hukum Islam yang mempunyai kesamaan dengan daerah Arab, sehingga daerah kerajaan Samudera Pasai mendapat julukan daerah Serambi Mekkah.

Berikut ini urutan raja-raja yang memerintah di Samudera Pasai, yaitu sebagai berikut.
1. Sultan Malik as Saleh (Malikul Saleh)
2. Sultan Malikul Zahir, meninggal tahun 1326
3. Sultan Muhammad, wafat tahun 1354
4. Sultan Ahmad Malikul Zahir atau Al Malik Jamaluddin, meninggal tahun 1383
5. Sultan Zainal Abidin, meninggal tahun 1405
6. Sultanah Bahiah (puteri Zainal Abidin), sultan ini meninggal pada tahun 1428.

Sosial Ekonomi Masyarakat Kerajaan Samudera Pasai

Menurunnya peranan Kerajaan Sriwijaya di Selat Malaka bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Samudera Pasai. Di bawah kekuasaan Samudera Pasai, jalur perdagangan di Selat Malaka berkembang pesat. Banyak pedagang-pedagang dari Arab, Persia dan Gujarat yang berlabuh di Pidie, Perlak, dan Pasai. 
Pada masa raja Hayam Wuruk berkuasa, Samudera Pasai berada di bawah kendali Majapahit. Walau demikian Samudera Pasai diberi keleluasan untuk tetap menguasai perdagangan di Selat Malaka. Belakangan diketahui bahwa sebagian wilayah dari Kerajaan Majapahit sudah memeluk agama Islam.
Karena letak Kerajaan Pasai pada aliran lembah sungai membuat tanah pertanian subur, padi yang ditanami penduduk Kerajaan Islam Pasai pada abad ke-14 dapat dipanen dua kali setahun, berikutnya kerajaan ini bertambah makmur dengan dimasukkannya bibit tanaman lada dari Malabar. Selain hasil pertanian yang melimpah ruah di dataran rendah, di dataran tinggi (daerah Pedalaman juga menghasilkan berbagai hasil hutan yang di angkut ke daerah pantai melalui sungai. Hubungan perdagangan penduduk pesisir dengan penduduk pedalaman adalah dengan sistem barter.
Karena letaknya yang strategis, di Selat Malaka, di tengah jalur perdagangan India, Gujarat, Arab, dan Cina, Pasai dengan cepat berkembang menjadi besar. Sebagai kerajaan maritim, Pasai menggantungkan perekonomiannya dari pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang strategis di Selat Malaka membuat kerajaan ini menjadi penghubung antara pusat-pusat dagang di Nusantara dengan Asia Barat, India, dan Cina. Salah satu sumber penghasilan kerajaan ini adalah pajak yang dikenakan pada kapal dagang yang melewati wilayah perairannya.
Berdasarkan catatan Ma Huan yang singgah di Pasai pada 1404, meskipun kejayaan Kerajaan Samudera Pasai mulai menurun seiring munculnya Kerajaan Aceh dan Malaka, namun negeri Pasai ini masih cukup makmur. Ma Huan adalah seorang musafir yang mengikuti pelayaran Laksamana Cheng Ho, pelaut Cina yang muslim, menuju Asia Tenggara (termasuk ke Jawa).


Kerajaan Samudera Pasai merupakan dua kerajaan kembar, yakni Samudera dan Pasai, kedua-duanya merupakan kerajaan yang berdekatan. Ketika Nazimuddin al-Kamil (Laksamana asal Mesir) menetap di Pasai, kedua kerajaan tersebut akhirnya dipersatukan dan Pemerintahan menjalankan sistem nilai-nilai Islam. 
Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan pesisir sehingga pengaruhnya hanya berada di bagian Timur Sumatera. Samudera Pasai berjasa menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok di Sumatera, bahkan menjadi pusat penyebaran agama. Selain banyaknya orang Arab menetap dan banyak ditemui persamaan dengan kebudayaan Arab, atas jasa-jasanya menyebarkan agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara wilayah itu dinamakan Serambi Mekah.
Berdasarkan catatan Batutah, Islam telah ada di Samudera Pasai sejak seabad yang lalu, jadi sekitar abad ke-12 M. Raja dan rakyat Samudera Pasai mengikuti Mazhab Syafei. Ketika singgah di pelabuhan Pasai, Batutah dijemput oleh laksamana muda dari Pasai bernama Bohruz. Lalu, laksmana tersebut memberitakan kedatangan Batutah kepada raja. Ia diundang ke Istana dan bertemu dengan Sultan Muhammad, cucu Malik as-Saleh. Setelah setahun di Pasai, Batutah segera melanjutkan pelayarannya ke Cina, dan kembali ke Samudera Pasai lagi pada 1347.
Bukti lain dari keberadaan Pasai adalah ditemukannya mata uang dirham sebagai alat tukar dagang. Pada mata uang ini, tertulis nama para sultan yang memerintah Kerajaan. Nama-nama sultan (memerintah dari abad ke-14 hingga 15) yang tercetak pada mata uang tersebut di antaranya Sultan Alauddin, Mansur Malik Zahir, Abu Zaid Malik Zahir, Muhammad Malik Zahir, Ahmad Malik Zahir, dan Abdullah Malik Zahir.
Dengan munculnya pusat politik dan perdagangan baru di Malaka pada abad ke-15 merupakan faktor yang menyebabkan Kerajaan Samudera Pasai mengalami kemunduran. Hancur dan hilangnya peranan Pase dalam jaringan antar bangsa, yaitu ketika suatu pusat Kekuasan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera, yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke-16. Pasai ditaklukan dan dimasukkan ke dalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudera Pasai dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).
Namun demikian, dari perjalanan sejarah Pasai antara akhir abad ke 13 sampai awal abad ke 16 memang menunjukkan Kerajaan Samudera Pasai muncul dan berkembang. Runtuhnya kekuatan Kerajaan Pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi di luar Pasai itu sendiri. Walaupun Kerajan Islam Samudera Pasai berhasil ditaklukan oleh Sultan Asli Mughayat Syah, namun peninggalan dari Kerajaan ini masih banyak dijumpai sampai saat ini.
Pada 1913 dan 1915, J.J. De Vink bangsa Belanda telah mengadakan inventarisasi di bekas peninggalan Kerajaan Islam Samudera Pasai. Dan pada 1937, beberapa makam di Samudera Pasai dipugar oleh Pemerintah Belanda. Kemudian pada 1972, 1973, dan 1976. Peninggalan Kerajaan Samudera Pasai di Kecamatan Samudera Geudong Kabupaten Aceh Utara telah diinventarisasi oleh Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan milik pemerintah Republik Indonesia.
Pada umumnya, tulisan pada makam tersebut belum diteliti seluruhnya dan hal ini perlu penelitian lebih lanjut oleh generasi pada masa sekarang. Berbagai peninggalan sejarah berupa situs makam para raja yang hingga saat ini penduduk di sekitar makam Sultan Malikussaleh sering menemukan mata uang emas (dirham), keramik, dan gelang mata delima yang umumnya ditemukan di sekitar kawasan tersebut.



Tuesday, December 5, 2017

Asal Usul Surabaya

SURABAYA
 (First Version - Javanese -Boso Jowo nak ora ngerti)

Jaman mbiyen, ing lautan sering kedadean tukaran antarane iwak hiu Sura lan Buaya. Kabeh kuwi tukaran ngrebutne mangsa. Kelorone pada-pada kuat, pada-pada tangkas, pada-pada cerdik, pada-pada ganas, lan pada-pada rakus. Uwis ping bola-bali kuwi kabeh tukaran hurung pernah ana kang menang utawa sing kalah. Akhire kuwi kabeh ngadakne kesepakatan.
“Aku bosen terus-terusan tukaran, Buaya,” Jare iwak Sura.
“Aku ya, Sura. Apa kang kudu dhewe lakoni ben dhewe ora tukaran?” takon Buaya.
Iwak Hiu Sura kang uwis nduweni rencana kanggo menghentikan tukarane kanggo buaya cepet nerangke.
“Kanggo nyegah tukarane ing antarane dhew, sebaike dhewe mbagi wilayah kekuasaan dadi loro. Aku berkuasa sepenuhe ing njero banyu lan kudu golek mangsa ing njero banyu, sedangkan kowe berkuasa ing pinggiran lan mangsa kudu golek ing pinggiran. Kanggo batas antarane pinggiran lan banyu, dhewe tentukne batase, yaiku tempat kang dicapai oleh banyu laut ing waktu pasang surut!”.
“Apik aku setuju karo gagasanmu kuwi!” Jare buaya.
Karo enek’e pembagian wilayah kekuasaan, skiki ora ana tukaran maneh antarane Sura lan Buaya. Kelorone uwis sepakat kanggo ngehormati wilayahe dhewe-dhewe.
Nanging ing wayah dina, Iwak hiu Sura golek mangsa ing sungai. Hal kuwi dilakokne karo meneng-meneng men Buaya ora ngerti. Mula-mula hal iki ora ketahuan. Nanging ing wayah dina Buaya ngerteni kelakuan iwak Hiu Sura iku. Ngerti wae Buaya nesu weruh iwak Hiu Sura nglanggar janjine.
“He Sura, ngapa kowe nglanggar peraturan kang uwis dhewe sepakati? Ngapa kowe wani mlbu sungai kang wilayah kekuasaanku?” pitakone Buaya.
Iwak Hiu Sura kang ora ngrasa salah tenang-tenang wae.
“Aku nglanggar kesepakatan? Apa ora sungai iki ana banyune. Aku kan wis ngomong nek aku penguasa banyu? Nah sungai iki’kan ana banyune, dadi iki termasuk daerah kekuasaanku,” Jare Iwak Hiu Sura.
“Apa? Kali kuwi kan nggon ing pinggiran, apa maneh daerah kekuasaanmu kuwi ing segara dadi kali kuwi daerah kekuasaanku!”Buaya ngotot.
“Ora bisa. Aku ora ngomong nek banyu ora mung laut, nanging ya kali,” Jawab ikan Hiu Sura.
“Kowe sengaja golek gara-gara Sura?”
“Ora! Tak pikir alasanku cukup kuat lan ing pihak kang bener!” Jare Sura
“Kowe sengaja ngakali aku. Aku ora bodo kaya sing mvuk pikir!” Ngomonge Buaya karo nesu.
“Aku ga gagas kowe bodo apa pinter, sing penting banyu kali lan banyu segara iku kekuasaanku!” Sura tetep ga gelem kalah
“nek ngna kowe pancen ndwe maksud ngapusi aku? Yawis perjanjiane dhewe batal! Sapa wae sing nduwe kekuatan kang paling elok, ya kae sing dadi penguasa tunggal!” Omonge Buaya.
“Tukaran maneh, sapa sing wedi!” Nantang Sura karo kendele.
Pertarungan antarane iwak Hiu Sura lan Buaya kedadean maneh. Tukaran iki tambah seru lan dahsyat. Pada-pada nyakiti, pada-pada nyokot lan njotosi. Ing wayah kuwi, banyu ing sanding dadi abng amarga getih kang metu saka luka-luka keloro kewan kuwi. De’e kabeh terus tukaran paten-patenan ora leren blas.
Ing pertarungan dahsyat kuwi, Buaya oleh cokotan saka iwak Hiu Sura ing buntut. Sakwise buntut kuwi kecokot kepekso buntute mbengkok. Nanging iwak Sura iya kecokot buntute ngasi ameh pedhot terus iwak Sura bali nyang segara. Buaya puas uwis bisa mbalekne daerahe.
Pertarungan antarane iwak Hiu kang nduwe jeneng Sura karo Buaya iki berkesan banget ning ati masyarakat Surabaya. Merga kuwi peristiwa iki terus-terus digatok-gatokne karo jeneng Surabaya. Saka peristiwa iki dikanggokne lambing Kota Madya Surabaya yaiku gambar iwak Sura lan Buaya.
Sakwise, saka dina peristiwa kemenangan Raden Wijaya dadi dina jadi Kota Surabaya.
Ing jaman sakiki, pertarungan ngrebutne wilayah banyu lan pinggiran terus kedaen. Ing musim udan teka kadang banjir nguasai kota Surabaya. Ing musim ketiga kadang tempat-tempat genangna banyu dadi daratan kering. Ya kuwi Surabaya.

(Second Version - Bahasa Indonesia)


Dahulu kala, di lautan nan luas (tepatnya di Laut Jawa), hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu sura dan seekor buaya. Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah.Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan.

"Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu." kata ikan hiu Sura. "Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?" tanya Buaya.
"Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!"
"Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!" kata Buaya sambil mengangguk.

Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya.

"Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?" tanya si Buaya.
"Eits... Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?" Kata Sura mengelak.
"Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!" jawab Buaya ngotot.
"Ohh... Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu ait" jawab Hiu Sura.
"Hmm... Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?" hentak Buaya.
"Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!" elak Sura.
"Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!" jawab Buaya mulai marah.
"Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!" serang Sura tak mau mengalah.

Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya.
Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan untuk memberi nama Surabaya pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.

Penyusun : Alamudin Zaenuri
Al Khawarizmi dari Negeri Ibu Pertiwi
Dahulu kala, di lautan nan luas (tepatnya di Laut Jawa), hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu sura dan seekor buaya. Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan. "Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu." kata ikan hiu Sura. "Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?" tanya Buaya. "Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!" "Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!" kata Buaya sambil mengangguk. Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya. cerita rakyat asal usul Surabaya " Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?" tanya si Buaya. "Eits... Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?" Kata Sura mengelak. "Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!" jawab Buaya ngotot. "Ohh... Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu ait" jawab Hiu Sura. "Hmm... Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?" hentak Buaya. "Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!" elak Sura. "Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!" jawab Buaya mulai marah. "Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!" serang Sura tak mau mengalah. Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya. cerita rakyat asal usul Surabaya Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan untuk memberi nama Surabaya pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2014/07/cerita-rakyat-asal-usul-kota-surabaya.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.
Dahulu kala, di lautan nan luas (tepatnya di Laut Jawa), hiduplah 2 hewan buas yang sama-sama angkuh dan tak mau kalah. Kedua hewan tersebut adalah ikan hiu sura dan seekor buaya. Karena tinggal berdampingan, dua hewan tersebut sering berselisih dan berkelahi ketika memperebutkan makanan. Karena sama-sama kuat, tangkas, ganas, dan sama-sama cerdik, perkelahianpun terus berlangsung karena tidak ada yang bisa menang dan tidak ada yang bisa kalah. Pada akhirnya, kedua hewan tersebut merasa bosan dan lelah jika harus terus berkelahi. Menyadari hal itu keduanya kemudian sepakat mengadakan perjanjian tentang pembagian area kekuasaan. "Hai Buaya, lama-lama aku bosan berkelahi denganmu." kata ikan hiu Sura. "Hmm, Aku juga, Sura. Lalu, apa yang mesti kita lakukan supaya perkelahian kita ini bisa berhenti?" tanya Buaya. "Untuk mencegah terjadinya perkelahian lagi di antara kita, alangkah baiknya jika kita membagi daerah ini menjadi 2 daerah kekuasaan. Aku berkuasa di dalam air dan hanya bisa mencari mangsa di dalam air, sedang engkau barkuasa di daratan dan dengan begitu mangsamu harus pula yang ada di daratan. Lalu, sebagai batasnya, kita tentukan lebih dulu yaitu tanah yang dapat dicapai air laut pada saat pasang surut!" "Oke, aku setujui dengan gagasanmu itu, Sura!" kata Buaya sambil mengangguk. Dengan adanya perjanjian tersebut, untuk beberapa saat ikan hiu Sura dan buaya tak pernah berkelahi lagi. Keduanya sepakat untuk saling menghormati wilayah kekuasaannya masing-masing. Namun, setelah waktu berselang begitu lama, ikan-ikan yang menjadi mangsa hiu sura mulai habis dilautan. Sebagian ikan yang tersisa justru bermigrasi ke arah muara sungai Brantas karena takut dimangsa si hiu Sura. Menyadari hal itu, ikan hiu sura terpaksa dengan sembunyi-sembunyi mulai mencari mangsanya di muara sungai agar tidak ketahuan oleh buaya. Namun tanpa disadari si buaya ternyata mengetahui tingkah si hiu sura dan langsung menyerangnya. cerita rakyat asal usul Surabaya " Sura, kenapa kau melanggar perjanjian yang sudah kita berdua sepakati? Kenapa kamu berani-beraninya memasuki wilayah sungai yang adalah daerah kekuasaanku?" tanya si Buaya. "Eits... Aku melanggar perjanjian? Ingatkah engkau akan bunyi perjanjian kita? Bukankah sungai ini berair? Dan karena ada airnya, jadi sungai ini juga termasuk daerah kekuasaanku, bukan?" Kata Sura mengelak. "Apa maksudmu Sura? Bukankah sungai itu berada di darat, sedang daerah kekuasaanmu ada di laut, berarti sungai itu termasuk daerah kekuasaanku!" jawab Buaya ngotot. "Ohh... Tidak bisa. Bukankah aku tidak pernah sekalipun mengatakan kalau air itu hanya air laut? Bukankah pula air sungai itu ait" jawab Hiu Sura. "Hmm... Rupanya sengaja kau mencari gara-gara denganku, Sura?" hentak Buaya. "Tidak!! Ku kira alasanku sudah cukup kuat dan aku ada dipihak yang benar!" elak Sura. "Kau memang benar-benar sengaja mengakaliku Sura. Aku tidaklah sebodoh yang engkau kira!" jawab Buaya mulai marah. "Aku tak peduli kau pintar atau bodoh, yang jelas sungai dan laut merupakan daerah kekuasaanku!" serang Sura tak mau mengalah. Adu mulut antara Sura dan Baya pun berakhir dengan perkelahian yang sengit. Perkelahian kali ini menjadi sangat seru dan dahsyat karena keduanya merasa sama-sama tidak salah. Mereka saling menggigit, menerjang, memukul, dan menerkam. Dan dalam waktu sekejap, air sungai disekitarnya tempat perkelahian itu menjadi merah karena darah yang keluar dari luka kedua binatang itu. Mereka bertarung dengan mati-matian. Buaya mendapat gigitan Sura di ujung ekor sebelah kanan, sehingga ekor tersebut selalu membengkok ke kiri. Sedangkan Sura tergigit ekornya hingga nyaris putus. Karena sama-sama sudah terluka parah, keduanya kemudian berhenti berkelahi. Ikan surapun mengalah dan akhirnya kembali ke laut. Buaya yang menahan sakitnya pun merasa puas karena telah mampu mempertahankan daerah kekuasaannya. cerita rakyat asal usul Surabaya Tak berselang lama diketahui bahwa kedua hewan tersebut ternyata mati karena luka yang cukup parah dari bekas perkelahian. Dan untuk mengenangnya, penduduk sekitar menyatakan untuk memberi nama Surabaya pada daerah disekitar tempat perkelahian antara ikan Sura dan Buaya tersebut.

Sumber: http://kisahasalusul.blogspot.com/2014/07/cerita-rakyat-asal-usul-kota-surabaya.html
Disalin dari Blog Kisah Asal Usul.

Sejarah Terjadinya Rawa Pening (Bahasa Jawa)

RAWA PENING

Desa Banarawa lagi nganakake pesta desa. Wong-wong ing desa iku padha masak kanggo nyiyapake pesta. Kabeh padha njupuk bagian, ora ana kang keri. Wong-wong padha nyiyapake ubarampe pesta kang minangka wujud rasa syukur marang Gusti kang Akarya Jagad. Ing tengah-tengahing padha nyambut karya mau, ana bocah kang ala rupane, pesing lan amis gandane.

Mangerti kahanan kang kaya mangkono, wong-wong padha ora seneng, amarga manut kapitayane masyarakat, bocah ala iki bakal nekakake sial, ora oleh berkah anggone pesta. Kagawa rasa ora seneng mau, mula bocah ala rupane ditundhung kanthi kasar. Bocah mau bisane mung nangis, karo mlaku sempoyongan amarga wis pirang-pirang dina ora mangan, bocah ala rupa mau lunga lan ngadoh saka wong-wong mau. Kanthi ati kang lara lan nabet jroning ati amarga tansah digawe kasar, dihina, bocah ala rupa mau mlaku menyang kampung tanpa arah lan tujuan. Anggone mlaku ora krasa tekan papan panggonan arupa gubugan kang sepi kahanane lan adoh saka masyarakat. Gubug mau mung dienggoni wong tuwa wedok kang wis dadi randha.

Ing gubug mau bocah kang elek rupane dirumat (dipelihara) dening Mbok Randha. Dheweke diwenehi pangan  kanthi lawuh apa anane. Sawise mangan, bocah ala mau crita marang simbah randha yen dheweke iku Baru Klinthing utawa Jaka Bandhung utawa Jaka Pening. Simbah mau tresna banget marang Baru Klinthing, malah urip bebarengan sawetara dina. Bareng wis rumangsa wis rumangsa cukup dibantu dening simbah, Baru Klinting nerusake mlaku lan marani wong-wong kampung kang wis nglarakake atine. Sadurunge lunga , Baru Klinthing weling marang simbah yen mengko ana prastawa gedhe simbah supaya numpak lesung. Ing batin, simbah bingung karo welinge Baru Klinthing mau, nanging simbah tetep urmat lan ngeling- eling piweling kasebut.

Lakune Baru Klinthing linambaran ati kang goreh lan nggawa sada lanang. Lakune wis tekan kampung kang dituju. Wong-wong padha ngusir marang Baru Klinthing. Nanging Baru Klinthing ora gelem lunga, malah nantang marang wong-wong kampung lan ngetokake sada lanang. Sada lanang kasebut banjur  ditancepake ing lemah. Wong-wong dikandani supaya njabut sada mau, yen bisa njabut sada mau arep diwenehi bebana dening Baru Klinthing. Krungu tembunge Baru klinthing kang kaya mengkana, Wong-wong pada nyoba njabut sada mau. Saka sing awake cilik   tekan wong sing awake gedhe ora ana kang bisa njabut. Pungkasaning, sada mau saged dinjabut kaliyan Baru Klinthing lan muncrat banyu.

Muncrate banyu sansaya gedhe. Wong-wong padha bingung lan padha golek papan panggonan kang luwih dhuwur. Omah, kewan, wit-witan, raja brana, lan wong-wong mau ora ana tilase, kabeh wong pada sirna amarga piwalese saka tumindhake dewe. Kampung kang mirip rawa mau, diarani Rawa Pening.

Rawa pening saiki panggonan plancongan ing Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Rawa iku ambane kurang luwih 2.670 hektar lan mapan ana ing Kecamatan Ambarawa, Bawen, Tungtang, lan Banyu Biru. Rawa iki mapan ana ing ereng-ereng gunung Merbabu, Temoloyo, lan Ungaran.

Wednesday, October 11, 2017

Contoh Parikan

CONTOH PARIKAN

Abang-abang gendera landa
Ana sing ijo kok milih putih
Bujang maneh ora ngluyura
sing wes duwe book ora tau mulih

Ana brambang sasen llima
Berjuang labuh Negara

Awan-awan aja kluyuran
Ana pak mantra numpak sekuter
Kapan-kapan aku keturutan
Duwe kanca sinaune pinter

Wedang bubuk gula jawa
yen kepethuk ati lega

Sepet-sepet sawone mentah
Diempet-empet selek ora betah

Bisa ngendhang ora bisa nyuling
Bisa nyawang ora wani nyanding

Bibi Surip tuku klobot
Pethuk Encik tawa roti
Uwong Urip pancen abot
mula becik ngati-ati

Wajik klethik
gula abang
Aja suthik
yen tumandang

Godhong kecippir mrambat kawat
 Najan gak mampir nanging lewat

Jambu apa jeruk
Aku melu apa entuk

Jemek-jemek gula jawa
aja ngenyek karo kanca

Kembang jagung dipethik cina
Barang wes kadung dikapakna

Manuk emprit menclok godhong tebu
Dadi murid sing sregep sinau
Kutha Kendal Kali wungu
Ajar kenal karo aku

Manuk kutut manggunge ngganter
Yen ra nurut bias keblinger

Esok nyulingsore nyuling
Sulinge arek Surabaya
Esok eling sore eling
sing dieling ora rumangsa

Esok nembang sore nembang
tembange asmaradana
 esok ngadhang sore ngadhang
sing diadhang ra  teka-teka

Korek gambar klenthing
kula ndherek wonten wingking


Wedang jeruk tanpa gula
 Aja sok umuk tanpa guna
Wajik klethik gula jawa
Luwih bejik sing prasaja

Tawon madu ngisep sekar
Dadi guru kudu sabar

Semarang kaline banjir
Aja sumelang ora dipikir

Manuk emprit
nucuk pari
Dadi murid
sing taberi.

Manuk tuhu
mencok pager
Yen sinau
dadi pinter.
Gudheg manggar
bumbune mrica ketumbar
 Lamun sabar
bisa lejar sarta bingar.

Kembang kencur
tinandur tepining sumur
 Sapa jujur
bakal luhur klawan makmur

Esuk nakir sore nakir
sing ditakir godhong plasa
Esuk mikir sore mikir
sing dipikir mung golek bandha.

Jangan kacang jangan kara
kaduk uyah kurang gula
Piwelingku mring pra mudha
aja wedi ing rekasa.

Yen kembang kembang cempaka
dudu kembang arum dalu
Mumpung sira isih mudha
den asregep ngudi ngelmu

Wedang bubuk
tanpa gula
Ja sok ngantuk
gelis tuwa
Sepet sepet
Sawone mentah
Diempet empet
selak ra betah

wedang bubuk
gula jawa.
Yen kepethuk
ati lega

Wajik klethik
gula abang
Aja suthik
yen tumandhang

Kembang jagung
dipethik Cina
barang wis kadhung
dikapakna

Godhong kecipir
mrambat kawat
Najan gak mampir
nanging liwat

Manuk kutut
manggunge ngganter
yen ra nurut
bisa keblinger

Manuk emprit
menclok godhong tebu
Dadi murid
sing sregep sinau

Yen kembang kembange lamtara
dudu kembang wora wari
Mumpung sira isih mudha
sing taberi ngati ati

Esuk nyuling sore nyuling
sulinge arek Yogyakarta
Esuk eling sore eling
sing dieling ora rumangsa

Awan awan aja keluyuran
ana pak mantri numpak sekuter
kapan kapan aku keturutan
duwe kanca sinaune pinter

Yen kembang kembange kacang
 dudu kembange puspa nyidra

Nih ane tambahin lagi gengs...............



1. Sepet sepet, Sawone mentah
- Diempet empet, selak ra betah

2. wedang bubuk, gula jawa.

- Yen kepethuk, ati lega

3. Wajik klethik, gula abang
- Aja suthik, yen tumandhang

4. Kembang jagung, dipethik Cina
- barang wis kadhung, dikapakna

5. Godhong kecipir, mrambat kawat

- Najan gak mampir, nanging liwat

6. Manuk kutut, manggunge ngganter

- yen ra nurut, bisa keblinger

7. Manuk emprit, menclok godhong tebu
- Dadi murid, sing sregep sinau

8. Yen kembang kembange lamtara, dudu kembang wora wari
- Mumpung sira isih mudha, sing taberi ngati ati

9. Esuk nyuling sore nyuling, sulinge arek Yogyakarta
- Esuk eling sore eling, sing dieling ora rumangsa

10. Awan awan aja keluyuran, ana pak mantri numpak sekuter

- kapan kapan aku keturutan, duwe kanca sinaune pinter

11. Yen kembang kembange kacang, dudu kembange puspa nyidra

- Sih cilik dikudang kudang, bareng gedhe gawe rekasa.

12. Esuk nembang sore nembang, tembange asmaradana
- esuk ngadhang sore ngadhang, sing diadhang ra teka teka